Search
Archives

Minyak Ikan

Jenis minyak yang satu ini bukan untuk menggoreng tempe atau kerupuk. Minyak ikan sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan si kecil. Ya, walaupun tergolong keluarga minyak-minyakan, minyak ikan bukan untuk menggoreng namun merupakan “makanan” tambahan sumber zat gizi. Bahkan, minyak ikan termasuk bahan makanan sumber lemak yang rendah kolesterol, sehingga para ahli gizi dan kesehatan sepakat untuk memberikan label “aman” untuk dikonsumsi oleh bayi, balita, maupun orang dewasa.

Meski bernilai gizi baik, namun kandungan minyak di dalam ikan ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu jenis ikan , jenis kelamin, umur (tingkat kematangan), musim, siklus bertelur, dan letak geografis perairan tempat si ikan hidup.

Mengapa lebih baik?

Sebenarnya, jenis asam lemak pada minyak ikan ada tiga, yaitu:

  • Asam lemak tidak jenuh (tidak punya ikatan rangkap pada rantai karbonnya), seperti palmitat.
  • Asam lemak tidak jenuh tunggal (punya satu ikatan rangkap pada rantai karbonnya), contohnya oleat.
  • Asam lemak tidak jenuh ganda (punya lebih dari satu ikatan rangkap pada rantai karbonnya), contohnya linoleat, linolenat, asam eikosapentanoat (EPA), dan asam dokosaheksanoat (DHA).

Perlu Anda tahu, semakin panjang rantai karbon pada suatu jenis asam lemak dan semakin banyak jumlah ikatan rangkap pada rantai karbon penyusunnya, maka asam lemak itu akan semakin “kaya” manfaatnya bagi kesehatan.

Minyak ikan adalah salah satu zat gizi yang mengandung asam lemak kaya manfaat itu, karena mengandung sekitar 25% asam lemak jenuh dan 75% asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acid/PUFA ) di dalamnya akan membantu proses tumbuh-kembang otak (kecerdasan), serta perkembangan indera penglihatan dan sistem kekebalan tubuh bayi dan balita.

Ada 2 jenis PUFA yang sangat terkenal, yakni DHA dan EPA, dimana gabungan konfigurasi atom karbon keduanya dikenal sebagai omega-3. Jenis ikan laut yang “kaya” kandungan omega-3 antara lain salmon, tuna (khususnya tuna sirip biru, tuna sirip kuning, dan albacore ), sardin, herring , makerel, dan kerang-kerangan.

Minyak ikan juga mengandung vitamin A dan D –dua jenis vitamin yang larut dalam lemak– dalam jumlah tinggi. Manfaat vitamin A membantu proses perkembangan mata, sementara vitamin D untuk proses pertumbuhan dan pembentukan tulang yang kuat. Nah, kadar kedua vitamin ini dalam tubuh ikan akan meningkat sejalan dengan bertambah umurnya. Umumnya, kadar vitamin A dalam minyak ikan berkisar antara 1.000–1.000.000 SI (Standar Internasional) per gram, sementara vitamin D sekitar 50–30.000 SI per gram.

Berapa banyak boleh dikonsumsi?

Konsumsi minyak ikan bayi dan balita per harinya didasarkan pada berat badannya. Misalnya saja, bila berat badan anak Anda 10 kg, dia cukup mengkonsumsi minyak ikan sebanyak satu sendok teh setiap harinya. Jika berat badannya lebih dari 10 kg, gunakan alat takar berupa sendok makan, karena jumlah kebutuhannya juga akan meningkat.

Sebenarnya, ada cara gampang mengatur dosis konsumsi minyak ikan untuk anak. Ikuti saja aturan yang ada dalam kemasan. Produk minyak ikan sirup untuk anak-anak yang dijual di pasaran umumnya telah menambahkan zat-zat gizi lain, sehingga ukuran takaran yang dianjurkan pun sudah disesuaikan antara kandungan gizi yang ada dengan kebutuhan anak. Namun, bila Anda merasa perlu, ada baiknya bila mengkonsultasikan hal ini pada dokter anak Anda.

Yang juga perlu diperhatikan adalah cara penyimpanan minyak ikan. Mengingat proses oksidasi lemak yang dapat merusak kualitas minyak ikan bisa terjadi di mana saja (akibatnya menjadi tengik), simpanlah minyak ikan di dalam wadah yang tertutup rapat dan letakkan di tempat yang sejuk. (ayahbunda-online)

Share This  Post

Agar-Agar Kertas Dari Rumput Laut : Gracilaria sp.

2.1 Bahan Baku (Gracilaria sp.)

Bahan baku yang digunakan untuk mengolah agar kertas biasanya adalah rumput laut jenis Gracilaria yang juga dikenal sebagai agar merah yaitu jenis Gracilaria alam yang banyak dijumpai di Pantai Selatan P. Jawa dan Bali. Jenis rumput luat lain yang digunakan adalah rumput laut jenis Gracilaria dari hasil budidaya di tambak. Jenis rumput laut agar merah dapat di gunakan sendiri atau dicampur. Gracilaria tambak sendiri biasanya menghasilkan agar-agar yang lembek sehingga sulit dilakukan preparasi. Oleh karena itu, untuk memperkuat gel agar-agar yang terbentuk, Gracilaria tambak di campur dengan agar merah dengan perbandingan tertentu (Maulidin 2010).

Domain                : Eukaryota

Filum                   : Rhodophyta

Kelas                    : Florideophyceae

Ordo                    : Gracilariaes

Famili                   : Gracilariaceae

Genus                  : Gracilaria

Gracilaria sp adalah rumput laut yang termasuk pada kelas alga merah (Rhodophyta) dengan nama daerah yang bermacam-macam, seperti: sango-sango, rambu kasang, janggut dayung, dongi-dongi, bulung embulung, agar-agar karang, agar-agar jahe, bulung sangu dan lain-lain (Angkasa et al 2008)

Gracilaria sp. umumnya mengandung agar-agar sebagai hasil metabolisme primernya. Agar-agar diperoleh dengan melakukan ekstraksi rumput laut pada suasana asam setelah diberi perlakuan basa serta diproduksi dan dipasarkan dalam berbagai bentuk, yaitu: agar-agar tepung, agar-agar kertas dan agar-agar batangan. Setelah menjadi agar-agar, kemudian agar-agar ini diolah menjadi berbagai bentuk pangan (kue), seperti pudding dan jeli atau dijadikan bahan tambahan dalam industri farmasi. Menurut Angkasa et al (2008) Kandungan serat agar-agar relatif tinggi oleh karena itu agar-agar dikonsumsi pula sebagai makanan diet. Melalui proses tertentu agar-agar diproduksi pula untuk kegunaan di laboratorium sebagai media kultur bakteri atau kultur jaringan.

Sejak berabad lalu, nenek moyang kita telah memanfaatkan gracilaria sebagai makanan. Baik dimasak dengan air kelapa atau dengan air santan dan gula, rumput laut dibuat penganan atau dimasak oseng-oseng atau tumis. Di beberapa daerah pesisir di wilayah nusantara ini, gracilaria diyakini dapat dimakan sebagai pencegah GAKI. Hal ini semakin jelas dari beberapa hasil penelitian, ternyata beberapa jenis gracilaria banyak mengandung Iodium (Angkasa et al 2008).

2.2 Agar-agar Kertas

Agar-agar  dapat berbentuk batang, kertas maupun tepung (powder). Agar kertas merupakan salah satu bentuk pemanfaatan rumput laut. Teknologinya cukup sederhana dan tepat guna sehingga cocok untuk dikembangkan di daerah pedesaan, terutama di sekitar pusat produksi rumput laut. Pengolahan agar-agar kertas dari ekstrak rumput laut Glacilaria yang sudah lama berkembang menjadi salah satu usaha skala rumah tangga (small skill industry) secara turun-temurun di daerah Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat (Maulidin  2010). Agar-agar kertas sudah cukup lama dikenal masyarakat Indonesia. Akan tetapi, kualitas agar-agar ini masih belum mampu bersaing dengan produk impor di pasar domestik apalagi di pasar internasional.

2.2.1 Pengolahan

Pada prinsipnya agar-agar diolah dengan menggunakan teknologi yang diawali ekstraksi senyawa agar kemudian diikuti dengan tahapan-tahapan proses lanjut spesifik untuk memperoleh produk yang diinginkan, seperti agar-agar  kertas. Umumnya pengolahan agar kertas diterapkan oleh industri skala kecil atau rumah tangga. Teknologi pengolahan agar yang paling sederhana adalah pengolahan agar kertas yang telah banyak berkembang di Pameumpeuk, Garut (Jawa Barat). Peralatan yang digunakan juga sederhana. Proses pengolahan agar-agar kertas (Irianto dan Giyatmi 2009)  adalah sebagai berikut.

  1. 1. Pembersihan Bahan Mentah

Terdapat 3 perlakuan dalam tahap ini, yaitu perendaman, pencucian, dan sortasi. Rumput laut Gracilaria kering (yang telah dipanen) direndam dalam air bersih sekitar 2 jam, sedangkan apabila dicampur dengan Gracilaria tambak direndam selama 1 malam. Setelah itu, dicuci sambil diremas-remas dan dipisahkan semua kotoran yang ada, seperti pasir, karang, dan jenis rumput laut lain. Selanjutnya, dibilas beberapa kali dengan air sampai benar-benar bersih.

2.      Pemucatan

Rumput laut yang telah bersih direndam dalam larutan kapur 0,5 % selama 5-10 menit. Rumput laut kemudian dicuci sambil diremas-remas, dibilas dengan air bersih, ditiris dan dijemur di bawah panas matahari sampai kering. Selama penjemuran dilakukan pembalikan untuk mendapatkan pengeringan yang rata. Pada saat pengeringan terjadi proses pemucatan sehingga rumput laut menjadi lebih putih. Setelah itu, rumput laut direndam kembali dengan air bersih selama semalam lalu dicuci sambil diremas-remas dan dibilas sampai rumput laut bebas dari larutan atau bau kapur.

  1. 3. Perebusan

Proses ini ditujukan untuk mengekstrak agar dari rumput laut. Ekstraksi dilakukan dalam dua tahap yakni dengan direbus di dalam air sebanyak 2 kali dari berat rumput laut kering. Perebusan pertama dilakukan dengan air perebus 14 kali berat rumput laut  kering pada suhu 85-95oC dan pH 6-7 selama 2 jam sambil diaduk. Hasil perebusan disaring dengan kain saring dan ampasnya diekstrak lagi selama 1 jam dengan air perebus 6 kali berat rumput laut kering. Hasil perebusan disaring, ampas dibuang, dan filtratnya dicampurkan ke filtrat hasil penyaringan pertama. Kemudian campuran tersebut diendapkan untuk memisahkan kotoran halus yang masih ada.

Ekstraksi rumput laut campuran, yaitu Gracillaria yang di panen dari alam dan tambak, dilakukan dengan menggunakan air perebus sebanyak 12 kali berat dari rumput laut campuran kering. Ekstraksi dilakukan pada suhu 80-850C dan pH 4,5 selama 2 jam. Selanjutnya, hasil perebusan disaring dan diendapkan.

  1. 4. Penjendalan

Filtrat hasil penyaringan dari perebusan kedua dicampur menjadi satu. Filtrat tersebut dapat terlebih dahulu diberi perlakuan pemisahan kotoran dengan cara pengendapan atau tanpa perlakuan tersebut dengan langsung ditambah KOH atau KCL sebanyak 2-3% dari berat rumput laut kering yang diolah dan dipanaskan sambil diaduk selama 15 menit. Setelah itu, filtrat tersebut dituangkan ke dalam pencetak dan dibiarkan selama semalam untuk proses penjendalan sampai agar-agar menjendal cukup keras.

  1. 5. Pemotongan dan Pengepresan

Agar-agar yang telah keras dikeluarkan dari pan pencetak dengan membalik pan pencetak. Selanjutnya, agar-agar tersebut diiris tipis menggunakan alat pemotong agar dengan ketebalan 8-10 mm. Tiap irisan dibungkus kain dan disusun dalam alat pengepres ditambah secara bertahap. Pengepresan dihentikan jika lembaran agar-agar sudah cukup tipis. Jika agar-agar belum cukup tipis, pengepresan dilanjutkan dengan menambahkan beban pemberat.

  1. 6. Pengeringan

Lembaran agar-agar hasil pengepresan yang sudah tipis bersama kain pembungkusnya dijemur di bawah panas sinar matahari sampai kering yang ditandai dengan adanya agar-agar yang mengelupas dari kain pembungkus. Selama penjemuran agar-agar dibalik-balik supaya mendapatkan pengeringan yang merata dan seragam. Setelah kering, agar-agar dilepas satu persatu dari kain pembungkus.

  1. 7. Sortasi dan Pengemasan

Agar-agar kertas yang diperoleh dari pengolahan ini disortasi dengan memisahkan yang rusak, sobek dan kotor sambil mengelompokkan mutunya. Di samping itu, agar-agar dirapikan bentuknya dan dikemas dalam kantung plastik atau jenis pengemas lainnya berisi 100 g agar-agar kertas per pengemas atau sesuai dengan permintaan.

2.2.2 Nutrition Facts

Salah satu ciri produk olahan yang baik adalah produk olahan yang disertai dengan lampiran keterangan kandungan gizi. Informasi kandungan gizi agar-agar kertas dapat dilihat pada Gambar 3 di bawah ini.

Gambar 3. Kandungan gizi agar-agar kertas

Sumber: Hendrayana et al (2009)

Komponen gizi yang paling banyak dari agar-agar kertas adalah serat pangan.  Serat pangan dikenal juga sebagai serat diet atau dietary fiber merupakan bagian dari tanaman yang dapat dikonsumsi dan mirip dengan karbohidrat yang memiliki sifat resistan terhadap pencernaan dan penyerapan di usus halus manusia serta mengalami fermentasi sebagian atau keseluruhan di usus besar. Serat pangan mencakup polisakarida, oligosakarida, lignin, serta substansi lainnya yang berhubungan dengan tanaman (Anonima 2010). Serat pangan ini bermanfaat sebagai pencegahan penyakit jantung koroner, kanker kolon, diabetes melitus, obesitas, divertikulosis, dan sembelit (Hartoyo 2008).

Komponen selanjutnya adalah kalsium. Mineral ini berfungsi terutama dalam membentuk dan memperahankan gigi yang kuat, mencegah osteoporosis, dan mengatur kontraksi otot. Hal ini akan terjadi jika jumlah kalsium yang dikonsumsi telah memenuhi standar AKG (angka kecukupan gizi). Agar-agar kertas termasuk kedalam produk dengan kadar kalsium rendah karena nilainya belum memenuhi angka kecukupan gizi. AKG kalsium dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.Angka Kecukupan Harian Menurut Widyakarya Pangan dan Gizi LIPI 1998

– Bayi 300-400 mg
– Anak-anak 500 mg
– Remaja 600-700 mg
– Dewasa 500-800 mg
– Ibu hamil dan menyusui +400 mg

Sumber: LIPI (1998)

Karbohidrat merupakan komponen pangan yang menjadi sumber energi utama dan sumber serat makanan. Karbohidrat yang tidak dapat dicerna (juga dikelompokkan sebagai serat makanan/dietary fiber) tidak bisa dipecah oleh enzim a-amilase (Anonimb 2010).

2.2.3. Mutu Agar-Agar Kertas

Secara organoleptik agar-agar kertas dapat dibedakan atas kelompok mutu (Irianto dan Giyatmi 2009) sebagai berikut :

Mutu 1      : putih bersih, tipis, tidak mudah sobek, agak kusam, sedikit sekali terdapat kotoran dan sisa-sisa hasil penyaringan.

Mutu 2 : putih agak kekuningan, cukup tipis, rupa agak kotor, keruh, dan kusam, terdapat kotoran dan sisa-sisa hasil penyaringan.

Mutu 3 : kuning kecoklatan, tebal dan berkerut, rupa kotor dan kusam sekali, banyak terdapat kotoran dan endapan sisa hasil penyaringan.

Mutu dan efesiensi pada pengolahan agar-agar kertas dapat dilakukan dengan memanfaatkan abu gosok dan khitosan. Hal ini telah telah diteliti oleh salah satu mahasiswa Institut Pertanian Bogor Sugeng Heri Suseno dari departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Perlakuan abu gosok 30% dan khitosan 0,6% mampu menghasilkan kekuatan gel (gel strenght) lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (Kalium Hidroksida), sehingga perlakuan ini bisa diaplikasikan pada pengolahan agar-agar kertas. Perlakuan demikian ternyata juga mampu mempengaruhi organoleptik , kekuatan gel, kadar sulfat, serat makanan dan rendemen agar-agar kertas. Tekstur dan warna agar-agar kertas hasil penelitian sama dengan produk agar-agar control (UKM 2006).

2.2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi produk

Rendemen yang diperoleh dari hasil pengolahan dipengaruhi oleh jenis dan mutu rumput laut secara efektivitas proses pengolahan. Pengolahan dengan menggunakan bahan baku rumput laut Gracillaria menghasilkan agar-agar kertas dengan rendemen 20-25% (Irianto dan Giyatmi 2009).

Karakteristik gel agar-agar bersifat rigid, rapuh, mudah dibentuk, dan memiliki titik cair tertentu. Keasaman (pH) sangat mempengaruhi kekuatan gel agar-agar, semakin rendah pH, kekuatan gel agar-agar semakin lemah sampai dengan pH 2,5. Kandungan gula menghasilkan gel yang lebih keras tetapi menghasilkan tekstur yang kurang kohesif (Glicksman 1983 dalam Rosulva 2008).

Adapun faktor teknis yang dapat mempengaruhi agar-agar kertas ialah tingkat kebersihan dalam pencucian rumput laut, penjemuran/ pengeringan, penjendalan, dan pengepresan. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi mutu akhir agar-agar kertas.

2.2.5 Cara Penyajian

Penyajian agar-agar relatif mudah dilakukan. Agar-agar dapat disajikan dalam berbagai bentuk namun tahapan dasar pada umumnya adalah sama, yakni sebagai berikut.

1. Agar-agar (1 bungkus berisi 3 lembar) direndam dengan air dingin  kurang lebih 2- 3 menit (jangan diremas)

2. Setelah air rendaman dibuang, tuangkan satu lembar agar-agar dengan 2-3 gelas air santan (500-600cc). tambahkan satu ons gula merah masak hingga mendidih sambil diaduk rata.

3. Tuangkan agar-agar ke dalam loyang biarkan hingga dingin

4. Agar-agar siap disajikan. Agar lebih tahan lama, simpan dalam lemari es.

Sumber: Hendrayana et al (2010)

2.2.6 Cara Penyimpanan

Agar-agar yang sudah selesai diproduksi disortasi untuk memisahkan yang rusak, sobek, dan kotor sekaligus dilakukan pengelompokan mutunya. Agar-agar kertas dikemas dalam kantong plastik atau tergantung permintaan pasar (Maulidin  2010).

2.2.7 Cara Distribusi

Agar-agar kertas yang sudah selesai proses pembuatannya dikemas dalam kantong plastik dan didistribusikan dengan menggunakan mobil yang menggunakan bak tertutup supaya agar-agar tersebut tidak terjadi kerusakan pada waktu pendistribusian (Maulidin  2010).

2.2.8 Peluang Usaha

Seiring dengan pertambahan penduduk dunia yang terus meningkat, diperkirakan kebutuhan rumput laut, baik sebagai bahan baku maupun produk olahan akan meningkat pula karena banyak digunakan di berbagai sektor kehidupan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan nilai tambah dan pengembangan usaha komoditi rumput laut. Permasalahannya, peningkatan nilai tambah dan pengembangan usaha komoditi rumput laut terbentur pada keterbatasan yang dimiliki oleh petani/nelayan dalam hal permodalan usaha, kurangnya informasi dan akses pasar, kurangnya sarana dan prasarana yang ada serta kurangnya penguasaan teknologi penanganan pasca panen dan pengolahan untuk memberikan nilai tambah pada komoditi tersebut. Kondisi tersebut menyebabkan petani/nelayan cenderung menjual komoditi rumput laut mereka dalam bentuk mentah, akibatnya nilai jual yang diperoleh tidak memuaskan.  Di Kecamatan Singkep, harga jual rumput laut sebagai bahan mentah adalah Rp. 200/kg basah, sedangkan untuk rumput laut kering berkisar Rp. 2.000 – 2.500/kg.

Selain potensial dalam hal luas lahan dan sumberdaya rumput laut bernilai ekonomis, kegiatan usaha rumput laut di Kecamatan Singkep, Kabupaten Kepulauan Riau juga mempunyai prospek yang baik dari segi pemasaran karena letak strategis Kabupaten Kepulauan Riau yang berdekatan dengan Singapura, Malaysia serta dengan beberapa negara ASEAN lainnya, selain berada pada lintasan jalur pelayaran dan perdagangan internasional, mulai dari Selat Malaka sampai pada Laut Cina Selatan (Syafitri 2002).

2.2.9 Analisis Kekurangan Produk

Terdapat beberapa hal yang menjadi kekurangan dalam produk agar-agar kertas yang kami peroleh, yakni

–          Tidak tercantumnya tanggal kadaluarsa produk

–          Tidak tercantumnya kandungan nutrisi/ nutrition fact pada kemasan. Adapun kandungan gizi yang disertakan di atas merupakan kemasan pembanding untuk produk agar-agar kertas yang kami peroleh.

–          Kurang rapinya pengemasan produk sehingga memungkinkan rusak cukup tinggi.

Bahan Baku Ikan Kerapu Macan

Ikan Kerapu (Epinephelus sp) umumnya dikenal dengan istilah “groupers” dan merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai peluang baik dipasarkan domestik maupun pada internasional dan memiliki nilai jual cukup tinggi. Eksport ikan kerapu melaju pesat sebesar 350% yaitu dari 19 ton pada tahun 1987 menjadi 57 ton pada tahun 1988 (Deptan, 1990). Ikan Kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan dapat diproduksi massal untuk melayani permintaan pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup.

Berkembangnya pasaran ikan kerapu hidup karena adanya perubahan selera konsumen dari ikan mati atau beku kepada ikan dalam keadaan hidup, telah mendorong masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ikan kerapu melalui usaha budidaya. Budidaya ikan kerapu telah dilakukan dibeberapa tempat di Indonesia, namun dalam proses pengembangannya masih menemui kendala, yakni keterbatasan benih. Selama ini para petani nelayan masih mengandalkan benih alam yang masih bersifat musiman. Akan tetapi, sejak tahun 1993 ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) sudah dapat dibenihkan.

Klasifikasi Ikan kerapu macan (Epinehelus fuscoguttatus) menurut………….adalah :
Class                         :Chondrichthyes
Subclas                     :Ellasmobranchii
Ordo                         :Percomorphi
Divis                         :Perciformes
Famii                        :Serranidae
Genus                       :Epinephelus
Species                     :Epinepheus sp

Gambar 1. Ikan Kerapu Macan (Epinepheus sp)

Sumber : Anonim (2009)

Ikan kerapu memiliki bentuk tubuh yang agak rendah, moncong panjang memipih dan menajam, maxillarry lebar diluar mata, gigi pada bagian sisi dentary 3 atau 4 baris. Selain itu, ikan kerapu macan memiliki bintik putih coklat pada kepala, badan dan sirip, serta bintik hitam pada bagian dorsal dan poterior. Habitat benih ikan kerapu macan adalah pantai yang banyak ditumbuhi algae jenis reticulata dan Gracilaria sp. Setelah dewasa , ikan ini hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar yang terdiri dari pasar berlumpur. Ikan kerapu termasuk jenis karnivora dan mempunyai cara makan yang “mencaplok” satu persatu makanan yang diberikan sebelum makanan sampai ke dasar. Pakan yang paling disukai adalah jenis krustaceae (rebon, dogol dan krosok), serta jenis ikan-ikan (tembang, teri dan belanak).

Kerapu merupakan jenis ikan demersal yang suka hidup di perairan karang, di antara celah-celah karang atau di dalam gua di dasar perairan. Ikan karnivora yang tergolong kurang aktif ini relatif mudah dibudidayakan, karena mempunyai daya adaptasi yang tinggi.Untuk memenuhi permintaan akan ikan kerapu yang terus meningkat, tidak dapat dipenuhi dari hasil penangkapan sehingga usaha budidaya merupakan salah satu peluang usaha yang masih sangat terbuka luas. Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas sehingga potensi sumberdaya kerapunya sangat besar. Dalam siklus hidupnya, pada umumnya ikan kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 m, selanjutnya menginjak dewasa berupaya ke perairan yang lebih dalam antara 7 – 40 m.

Kandungan lemak dalam daging ikan kerapu seluruhnya pada dasarnya berasal dari jaringan lemak, bukan dari otot daging karena jaringan ikan tersusun dari jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan lemak (Zeitsev et al. 1969 dalam……). Kandungan lemak dalam daging ikan kerapu adalah sebesar 5.44 ± 0.27 %. Dan memiliki kandunga protein sebesar 79.07 ± 6.23 % pada ikan yang engalami perlakuan dengan arus. Keberadaan protein dalam daging ikan kerapu berkaitan dengan aktivitas (Jangkaru 1974 dalam………..)

Potensi ikan kerapu sebagai komoditas ekspor sangat terbuka lebar. Ikan kerapu macan sangat diminati di Hong Kong sehingga harganya sangat mahal. Bahkan, menurut kalangan pebisnis ikan kerapu, harga jual jenis ikan kerapu tertentu di Hong Kong bisa mencapai USS 100 per kilogram (kg). Selama ini, mayoritas penghasil ikan kerapu menangkap ikan kerapu di laut kemudian membesarkannya dan menjual ke pasar. Hanya sebagian kecil yang sudah menangkarkan. Akibatnya, populasi ikan kerapu di lautan menjadi semakin terbatas.

Para penangkar lebih suka membudidayakan ikan kerapu ketimbang membesarkannya untuk proses ekspor kondisi ikan hidup. Dengan demikian, ikan kerapu di laut juga akan tetap tumbuh. Potensi budidaya kerapu masih belum tergarap maksimal. Pasalnya, para penangkar dan pembudidaya belum bisa ekspor sendiri. Mereka hanya bisa memanfaatkan pihak ketiga atau eksportir untuk menyalurkan ikan kerapunya ke pasar luar negeri. untuk melakukan ekspor sendiri, harus memiliki kapal yang di dalamnya setidaknya dilengkapi dengan fasilitas sirkulasi air. Sirkulasi air tersebut menjamin ikan yang di-ekspor akan tetap dalam kondisi hidup sesampainya di Hong Kong. Paling tidak, satu kapal bisa memuat 10 ton ikan kerapu hidup. Akan tetapi, jumlah sebanyak itu sebenarnya belum mencukupi jumlah permintaan dari Hong Kong.

China sangat berpotensi menjadi pasar ekspor ikan asal Indonesia atau negara pengimpor terbesar untuk semua jenis ikan termasuk udang. Hal tersebut dapat disebabkan karena tingkat konsumsi masyarakatnya yang tinggi terhadap ikan, sedangkan produksinya masih jauh lebih rendah dibandingkan kebutuhannya. China akan menjadi pasar yang mampu menyerap semua jenis ikan mulai dari yang harganya murah hingga yang mahal. Saat ini, lanjutnya, produksi ikan di China hampir mencapai 50 juta ton dan masih kecil dibandingkan konsumsi mereka.

Indonesia sanggup menjadi produsen ikan terbesar di dunia pada 2014 dan mencapai peningkatan produksi hingga 353% selama lima tahun ke depan atau 33% per bulannya, yaitu dari 5,26 juta ton menjadi 16,89 juta ton. Namun, hal itu dapat dicapai tidak untuk semua jenis ikan, tetapi pada jenis ikan seperti patin, bandeng, kerapu, lele, nila, serta rumput laut. Hal tersebut karena komoditas budi daya tersebut telah memiliki pasar, baik domestik maupun internasional, serta lahan pembudidayaannya yang mudah disediakan. Terlebih lagi, produk-produk perikanan tersebut saat ini tidak terkena kuota ekspor, berbeda dengan produk-produk manufaktur dan pertanian. Salah satu pemanfaatan perairan laut pantai yang menjanjikan prospek yang bagus adalah budidaya ikan kerapu. Permilihan lokasi yang tepat akan mendukung kesinambungan usaha dan target produksi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi untuk budidaya ikan kerapu adalah faktor resiko seperti keadaan angin dan gelombang, kedalaman perairan, bebas dari bahan pencemar, tidak mengganggu alur pelayaran; faktor kenyamanan seperti dekat dengan prasarana perhubungan darat, pelelangan ikan (sumber pakan), dan pemasok sarana dan prasarana yang diperlukan (listrik, telpon), dan faktor hidrografi seperti selain harus jernih, bebas dari bahan pencemaran dan bebas dari arus balik, dan perairannya harus memiliki sifat fisik dan kimia tertentu (kadar garam, oksigen terlarut).